Bagi Pemkot Mojokerto, keberadaan TBM diharapkan tidak berhenti sebagai tempat rekreasi. Kawasan tersebut diarahkan menjadi ruang publik yang aktif, tempat masyarakat dapat menikmati berbagai kegiatan sekaligus menjadi titik pertemuan berbagai sektor.

inilahmojokerto.com – Taman Bahari Majapahit (TBM) kembali menjadi ruang bertemunya seni, pendidikan, dan budaya. Panggung di kawasan tersebut semarak oleh penampilan para pelajar dalam gelaran One School One Event (OSOE) yang memasuki edisi ke-37, Rabu (23/9/2026).

Program yang digelar Pemerintah Kota Mojokerto melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan itu memberikan kesempatan kepada sekolah-sekolah untuk secara bergantian menampilkan kreativitas dan bakat seni para siswanya.

Bukan sekadar pertunjukan, kehadiran para pelajar di atas panggung TBM menjadi gambaran bagaimana ruang publik dapat dihidupkan melalui aktivitas seni dan budaya. Anak-anak mendapat ruang untuk berekspresi, sementara masyarakat memperoleh pilihan aktivitas hiburan yang bersifat edukatif.

Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari mengapresiasi konsistensi pelaksanaan OSOE yang dinilai mampu memberikan ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan kreativitas sekaligus kecintaan terhadap seni dan budaya.

“Alhamdulillah, One School One Event ke-37 kembali terselenggara. Semoga kegiatan ini bisa terus berjalan dan TBM dapat menjadi ruang kreasi bagi anak-anak kita untuk menampilkan kreativitas dan kepiawaian mereka,” kata Ning Ita.

Bagi Pemkot Mojokerto, keberadaan TBM diharapkan tidak berhenti sebagai tempat rekreasi. Kawasan tersebut diarahkan menjadi ruang publik yang aktif, tempat masyarakat dapat menikmati berbagai kegiatan sekaligus menjadi titik pertemuan berbagai sektor.

Seni dan budaya menjadi salah satu aktivitas yang dapat menghidupkan kawasan tersebut. Ketika panggung TBM diisi pertunjukan pelajar, ruang publik tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga mempertemukan pendidikan, kebudayaan, sosial, hingga potensi ekonomi masyarakat.

Pemanfaatan ruang publik semacam ini sekaligus membuka peluang TBM untuk berkembang sebagai salah satu ruang pendukung wisata budaya di Kota Mojokerto.

Terlebih, Mojokerto memiliki keterkaitan sejarah yang kuat dengan kawasan Majapahit. Identitas tersebut menjadi modal penting dalam membangun pengalaman wisata yang tidak hanya mengandalkan destinasi fisik, tetapi juga aktivitas budaya yang berlangsung di tengah masyarakat.

“Sebagai generasi pewaris Majapahit, kita membawa semangat Spirit of Majapahit. Karena itu, seni dan budaya harus terus diberikan ruang untuk ditampilkan dan diekspresikan oleh generasi-generasi kita,” ujar Ning Ita.

Pelestarian budaya, menurut Ning Ita, tidak hanya menjadi tanggung jawab para pelaku atau pegiat budaya. Proses tersebut juga perlu dilakukan melalui pendidikan dan pengalaman langsung generasi muda.

OSOE menjadi salah satu ruang yang mempertemukan kedua hal tersebut.

Para siswa tidak hanya belajar tampil di depan publik. Mereka juga belajar bekerja sama, mempersiapkan pertunjukan, membangun kepercayaan diri, serta mengenal berbagai bentuk seni dan budaya yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Dengan cara tersebut, seni tidak berhenti sebagai materi yang dipelajari di sekolah. Seni menjadi pengalaman yang dipraktikkan dan dinikmati bersama di ruang publik.

Di sisi lain, keterlibatan masyarakat dalam kegiatan seni di TBM dapat menciptakan suasana kawasan yang lebih hidup. Aktivitas semacam ini berpotensi memperkuat fungsi TBM sebagai ruang rekreasi sekaligus ruang budaya.

Pengembangan TBM sebagai ruang publik yang aktif juga membuka kemungkinan munculnya berbagai kegiatan lain di masa mendatang.

Pendidikan, seni, budaya, olahraga, kegiatan sosial, hingga aktivitas ekonomi masyarakat dapat bertemu dalam satu kawasan.

“TBM yang sudah kita bangun ini diharapkan bisa menjadi ruang publik yang bermanfaat, menjadi ruang untuk berekspresi dan ruang bertemunya berbagai sektor, baik ekonomi, budaya, pendidikan, sosial, maupun sektor lainnya,” jelas Ning Ita.

Jika konsisten diisi dengan kegiatan kreatif, TBM tidak hanya menjadi tempat yang didatangi untuk bersantai. Kawasan tersebut dapat memiliki daya tarik melalui agenda kegiatan yang berlangsung secara berkala.

Dalam konteks wisata budaya, keberadaan panggung seni pelajar seperti OSOE menjadi bagian dari upaya menghadirkan aktivitas yang membuat sebuah ruang publik memiliki cerita dan karakter.

Bagi Kota Mojokerto yang membawa identitas sejarah Majapahit, ruang-ruang semacam ini dapat menjadi bagian dari ekosistem budaya yang mempertemukan generasi muda, masyarakat, seniman, dan wisatawan.

Karena itu, gelaran OSOE ke-37 bukan hanya tentang siapa yang tampil di atas panggung. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menunjukkan bagaimana sebuah ruang publik dapat dioptimalkan menjadi tempat berekspresi, belajar, sekaligus mengenalkan seni dan budaya kepada masyarakat.

Dukungan guru dan orang tua juga menjadi bagian penting dari proses tersebut. Para siswa mendapatkan kesempatan untuk berani tampil, sementara masyarakat dapat menyaksikan kreativitas generasi muda di ruang publik Kota Mojokerto.

11

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini