Wayang Topeng Jatiduwur karya Luhur Wahyu Wijaya.

inilahmojokerto.com – Ada cerita menggetarkan di balik gemerlap panggung dan bingkai foto di Pameran Cagar Budaya, Aksara Gata, dan Pameran Visual di Gedung Kesenian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Pemkab Jombang.

Dua fotografer, Sofan Kurniawan (Sofanka) dan Luhur Wahyu Wijaya, tidak sekadar memamerkan 24 karya mereka dari Senin (30/3/2026) hingga Kamis (2/4/2026).

Mereka menghadirkan potongan kehidupan tentang tubuh, tradisi, dan ingatan yang sering luput dari perhatian publik.

Sofan (41), yang sehari-hari bekerja sebagai fotografer Radar Mojokerto, memilih jalan yang tidak biasa.

Ia tidak berhenti di depan panggung, tetapi masuk ke belakang layar pertunjukan ludruk di Mojokerto, Jombang, hingga Surabaya. Di sanalah, menurutnya, cerita-cerita yang paling jujur justru bersembunyi.

Selama bertahun-tahun, ia menyimpan potongan-potongan momen itu. Rias wajah yang perlahan dibentuk, tawa yang pecah di sela lelah, hingga tatapan sunyi sebelum naik panggung. Semua ia rekam menggunakan kamera kesayangannya, Nikon D-70.

Dari proses itu lahir serial foto “Travesti: Dialektika Tubuh dan Perlawanan”. Dalam karya-karyanya, Sofan menampilkan laki-laki yang menjelma perempuan di atas panggung.

Namun bagi Sofan, ini bukan sekadar peran. Ia melihat tubuh sebagai ruang cerita tentang identitas yang dinegosiasikan, tentang keberanian menjadi berbeda, dan tentang perlawanan yang kadang hanya bisa disampaikan lewat seni.

Di balik bedak, gincu, dan sanggul tinggi, ia menemukan jejak-jejak sejarah sekaligus suara yang tidak selalu terdengar.

“Banyak yang tidak terlihat penonton,” katanya pelan, seolah mengajak orang untuk melihat lebih dekat lewat karyanya.

Travesti karya Sofanka

Di sudut lain pameran, Luhur Wahyu Wijaya (44) menghadirkan suasana yang berbeda, namun sama hangatnya.

Ketertarikannya pada fotografi sudah tumbuh sejak di bangku SMA. Hingga kini, di sela tugasnya sebagai ASN di Dinas Kominfo Jombang, ia tetap setia memburu cerita.

Bagi Luhur, topeng bukan benda mati. Dalam serial foto “Wayang Topeng Jatiduwur: Nafas Lama dalam Tubuh Baru”, ia menangkap wajah-wajah kayu yang seolah menyimpan napas panjang sejarah.

Ia mendatangi Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben, Jombang, bukan hanya untuk memotret, tetapi untuk memahami. Ia melihat bagaimana tradisi tetap bertahan, meski zaman terus berubah.

Melalui bidikannya dengan Nikon D-300 dan lensa 35 mm, topeng-topeng itu terasa hidup, seolah membawa pesan dari masa lalu kepada siapa pun yang mau berhenti sejenak dan memperhatikan.

Pameran ini akhirnya bukan hanya tentang foto. Ia menjadi ruang pertemuan antara seniman dan penonton, antara masa lalu dan masa kini, antara cerita yang tampak dan yang tersembunyi.

Di tengah dunia yang bergerak cepat, karya-karya ini seperti bisikan pelan: bahwa budaya tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu untuk dilihat, didengar, dan dirasakan kembali. (anto)
.

9

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini