Di balik sempitnya Sinoman Gang 1 Kota Mojokerto, UMKM sepatu kulit Provillo tumbuh menjadi usaha keluarga yang memasok ribuan pasang sepatu sekolah ke berbagai daerah di Indonesia.

inilahmojokerto.com – Pagi baru saja bergerak di Lingkungan Sinoman Gang 1, Kelurahan Miji, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto. Gang sempit yang hanya cukup dilalui satu mobil itu tampak seperti gang permukiman biasa. Tidak ada papan nama besar atau bangunan megah yang menandakan aktivitas industri.

Namun di balik deretan rumah warga, denyut ekonomi mikro terus berputar.

Suara ketukan alat kerja, mesin pres menjadi penanda bahwa aktifitas sebuah usaha kecil sedang bekerja keras memenuhi permintaan pasar. Di tempat itulah sepatu-sepatu merek Provillo diproduksi sebelum dikirim ke berbagai daerah di Indonesia.

Menjelang tahun ajaran baru 2026, suasana di rumah produksi itu jauh lebih sibuk dibanding hari-hari biasa.

Di ruang depan yang sekaligus difungsikan sebagai toko, pengunjung datang. Sebagian besar adalah orang tua dan pelajar yang sedang berburu sepatu sekolah baru.

Seorang siswi yang akan memasuki bangku SMK tampak teliti memilih sepatu formal berwarna hitam sesuai aturan sekolah

Seorang siswi yang akan memasuki bangku SMK tampak teliti memilih sepatu formal berwarna hitam sesuai aturan sekolah. Tak lama kemudian, dua perempuan paruh baya bersama seorang anak laki-laki memasuki toko dengan tujuan serupa.

Mereka bukan satu-satunya pelanggan hari itu.

Musim masuk sekolah telah menjadi berkah tersendiri bagi usaha alas kaki yang tumbuh dari gang kecil tersebut.

“Kalau ukuran tidak pas, bisa ditukar. Kami juga melayani ukuran yang disesuaikan dengan bentuk kaki supaya lebih nyaman dipakai,” ujar salah seorang pelayan toko saat melayani pelanggan.

Di bagian belakang bangunan, para pekerja terlihat fokus menyelesaikan pesanan. Ada yang memasang sol, ada yang mengolesi lem juga ada yang melakukan pres menggunakan mesin. hingga melakukan tahap akhir pemeriksaan kualitas.

Bagi Rizaldi (30), kesibukan seperti ini merupakan pemandangan yang selalu ditunggu setiap musim masuk sekolah. Ia adalah generasi kedua yang meneruskan usaha keluarga yang telah dirintis sejak 1996.

Awalnya, keluarga mereka memproduksi sandal rumahan. Namun seiring perubahan kebutuhan pasar, usaha tersebut bertransformasi menjadi produsen sepatu kulit yang kini mampu menjangkau konsumen lintas daerah.

“Usaha ini saya lanjutkan dari orang tua. Dulu fokusnya sandal, kemudian berkembang ke produksi sepatu,” katanya.

Perubahan itu terbukti menjadi langkah yang tepat. Di tengah berbagai tantangan ekonomi yang dirasakan pelaku usaha kecil, permintaan sepatu sekolah justru melonjak tajam.

Jika pada bulan biasa produksi berkisar 1500 pasang sepatu, menjelang tahun ajaran baru jumlah pesanan dapat meningkat berkali-kali lipat. Pesanan datang tidak hanya dari Mojokerto, tetapi juga melalui jaringan reseller di Surabaya, Yogyakarta, Bali, Magetan, Tulungagung hingga Pemalang.

Model yang paling banyak dicari adalah pantofel bertali berbahan kulit untuk pelajar SMP, SMA hingga mahasiswa.

Bahan baku utama yang digunakan berasal dari kulit sapi asli yang dipasok dari sentra penyamakan kulit Magetan. Material tersebut dipadukan dengan sol berbahan thermoplastic rubber (TPR) yang dikenal kuat dan fleksibel.

Bagi Rizaldi, mempertahankan kualitas menjadi modal utama agar produk UMKM mampu bersaing dengan merek-merek besar yang membanjiri pasar.

“Kalau dirawat dengan benar, sepatu kulit bisa dipakai dua sampai tiga tahun,” ujarnya.

Meski produksi meningkat drastis, ia memilih mempertahankan kualitas dengan menambah jam kerja melalui sistem lembur daripada terburu-buru menambah kapasitas yang berisiko menurunkan mutu produk.

Dari gang sempit yang nyaris tak terlihat dari jalan utama itu, ribuan pasang sepatu terus lahir setiap bulan. Sebagian akan menemani langkah pelajar memasuki ruang kelas baru, sebagian lainnya digunakan pekerja maupun mahasiswa di berbagai kota.

Kisah Provillo menjadi gambaran bahwa usaha mikro masih mampu bertahan bahkan berkembang di tengah tekanan ekonomi. Di balik kesederhanaan sebuah gang kecil di Kota Mojokerto, ada semangat kewirausahaan yang terus hidup, membuka lapangan pekerjaan dan menjaga roda ekonomi lokal tetap berputar.

Sinoman Gang 1 mungkin hanya sebuah gang sempit di sudut kota. Namun dari tempat itulah, jejak langkah ribuan orang dimulai melalui sepatu-sepatu karya tangan para perajin lokal Mojokerto

6

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini