Kota Mojokerto mencatat nol kasus kematian ibu pada semester I 2026. Wali Kota Ika Puspitasari mengajak seluruh pihak meningkatkan kewaspadaan terhadap angka kematian bayi.

inilahmojokerto.com – Kota Mojokerto berhasil mencatatkan capaian penting di bidang kesehatan dengan tidak adanya kasus kematian ibu selama semester pertama 2026. Namun di balik prestasi tersebut, Pemerintah Kota Mojokerto meminta seluruh tenaga kesehatan dan pemangku kepentingan tidak lengah terhadap potensi meningkatnya angka kematian bayi.

Peringatan itu disampaikan Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari, saat membuka kegiatan Penguatan Lintas Program dan Lintas Sektor dalam Implementasi Pelayanan Kesehatan Primer dan Komunitas di Sunrise Hotel, Rabu (8/7/2026).

Perempuan yang akrab disapa Ning Ita itu menegaskan, mempertahankan angka kematian ibu (AKI) di posisi nol hingga akhir tahun menjadi target yang harus dijaga bersama. Namun pada saat yang sama, perhatian juga harus difokuskan pada upaya menekan angka kematian bayi (AKB).

Menurutnya, karakteristik Kota Mojokerto yang memiliki jumlah penduduk relatif kecil membuat setiap kasus kematian ibu maupun bayi memberikan dampak besar terhadap indikator kesehatan daerah.

“Satu kasus saja sudah berpengaruh besar terhadap persentase karena jumlah penduduk Kota Mojokerto tidak terlalu banyak. Karena itu semua pihak harus mampu mengenali faktor risiko dan tanda-tanda bahaya sejak dini agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat,” ujarnya.

Ning Ita mengungkapkan, capaian nol kematian ibu selama enam bulan pertama tahun 2026 bahkan mendapat apresiasi dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Meski demikian, keberhasilan tersebut tidak boleh membuat seluruh pihak merasa puas dan mengurangi kewaspadaan.

Ia meminta tenaga kesehatan, mulai dari fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama hingga rumah sakit, terus memperkuat deteksi dini terhadap ibu hamil berisiko tinggi serta meningkatkan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pemeriksaan kesehatan secara rutin selama masa kehamilan.

Selain itu, calon ibu dan keluarga juga didorong lebih aktif memahami tanda-tanda kondisi darurat yang dapat membahayakan keselamatan ibu maupun bayi.

“Yang terpenting adalah jangan sampai terlambat mengenali gejala dan jangan sampai terlambat mendapatkan penanganan. Edukasi harus terus dilakukan agar risiko kematian ibu maupun bayi dapat dicegah,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Ning Ita juga menekankan bahwa keberhasilan menurunkan AKI dan AKB tidak bisa hanya dibebankan kepada sektor kesehatan. Dibutuhkan keterlibatan banyak pihak untuk membangun sistem perlindungan yang lebih kuat bagi ibu dan anak.

Kolaborasi itu melibatkan organisasi perangkat daerah, rumah sakit pemerintah dan swasta, organisasi profesi kesehatan, Tim Penggerak PKK, Baznas, hingga Forum Corporate Social Responsibility (CSR).

Menurutnya, sinergi lintas sektor menjadi kunci untuk memastikan setiap program kesehatan ibu dan anak berjalan efektif dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

“Dengan bekerja bersama, hasil yang dicapai akan jauh lebih optimal. Kolaborasi menjadi kekuatan utama untuk menjaga kesehatan ibu dan anak di Kota Mojokerto,” tandasnya.

Melalui penguatan pelayanan kesehatan primer dan dukungan berbagai pihak, Pemkot Mojokerto berharap capaian nol kematian ibu dapat dipertahankan hingga akhir tahun sekaligus menekan angka kematian bayi agar kualitas kesehatan masyarakat semakin meningkat.

3

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini