
inilahmojokerto.com – Kemudahan pinjaman online (pinjol) yang hanya bermodal telepon genggam dinilai menjadi salah satu ancaman baru bagi pelaku usaha mikro. Kondisi itu membuat Pemerintah Kota Mojokerto meningkatkan edukasi literasi keuangan agar pelaku UMKM tidak terjebak utang digital yang berisiko menghambat perkembangan usaha.
Pesan tersebut disampaikan Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari, saat membuka kegiatan Capacity Building bertema peningkatan ekonomi daerah melalui pemanfaatan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Syariah bagi UMKM, Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP), dan kelompok tani di Balai Kota Mojokerto, Rabu (8/7/2026).
Di hadapan ratusan peserta, perempuan yang akrab disapa Ning Ita itu mengingatkan bahwa kemudahan pencairan dana dari pinjol sering kali menjadi jebakan bagi pelaku usaha yang membutuhkan tambahan modal secara cepat.
Menurutnya, tidak sedikit masyarakat yang tergoda karena proses pengajuan pinjaman dapat dilakukan dalam hitungan menit. Namun di balik kemudahan tersebut terdapat risiko yang bisa berdampak pada kondisi keuangan pelaku usaha apabila tidak memahami konsekuensi yang menyertainya.
“Pinjol menjadi salah satu persoalan yang banyak menjerat masyarakat. Karena prosesnya mudah, uang cepat cair, akhirnya banyak yang tergoda. Padahal jika tidak dipahami dengan baik, ini bisa menjadi ancaman bagi keberlangsungan usaha,” ujarnya.
Ning Ita menegaskan, Pemkot Mojokerto melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) terus berupaya meningkatkan pemahaman masyarakat terkait keuangan digital. Langkah tersebut dilakukan agar pelaku usaha mampu membedakan layanan keuangan legal dan ilegal serta terhindar dari berbagai modus penipuan.
Menurutnya, pelaku UMKM merupakan sektor yang harus mendapat perlindungan karena memiliki peran penting dalam menggerakkan perekonomian daerah. Kesalahan dalam mengambil keputusan pembiayaan dapat berdampak langsung terhadap kelangsungan usaha yang selama ini dibangun.
“Kalau pelaku UMKM terkena penipuan atau terjebak pembiayaan yang tidak sehat, usaha yang modalnya terbatas bisa terdampak serius. Karena itu literasi keuangan menjadi sangat penting,” katanya.
Selain memberikan pemahaman mengenai risiko pinjol, kegiatan yang menghadirkan narasumber dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan perbankan tersebut juga mendorong pelaku usaha memanfaatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang dinilai lebih aman dan terjangkau.
Ning Ita menilai akses permodalan saat ini bukan lagi hambatan utama bagi pelaku usaha. Selama usaha yang dijalankan memiliki prospek jelas dan dikelola secara baik, peluang mendapatkan dukungan pembiayaan dari lembaga keuangan resmi terbuka lebar.
“Modal usaha sebenarnya tersedia. Yang penting usaha yang dijalankan memiliki pasar dan dikelola dengan baik. Melalui kegiatan ini kami ingin pelaku UMKM memahami akses pembiayaan yang benar sehingga bisa mengembangkan usaha dan naik kelas,” tandasnya.
Melalui penguatan literasi keuangan digital dan pemanfaatan KUR, Pemkot Mojokerto berharap pelaku UMKM, koperasi, maupun kelompok tani semakin cakap mengelola keuangan sekaligus mampu memperluas skala usahanya tanpa harus terjebak pinjaman berisiko tinggi.









































