Banuan air bersih dari BPBD Kabupaten Mojokerto ke desa-desa yang dilanda kekeringan.

IM.com – Krisis air bersih yang melanda enam desa di tiga kecamatan di Kabupaten Mojokerto sejak awalmusim kemarau, sekitar Juni lalu, belum berakhir. Sedikitnya 7.386 warga terdampak krisis air di enam desa tersebut.

Sebanyak 7.386 jiwa terdampak itu selama ini menggantungkan kebutuhan air bersih sehari-hari dari Pemerintah Kabupaten Mojokerto dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Adapun enam desa yang dilanda kekerangan yakni Desa Kunjorowesi, Manduro Manggunggajah dan Kutogirang di Kecamatan Ngoro. Kemudian Desa Duyung Kecamatan Trawas, serta Desa Dawarblandong dan Simongagrok di Kecamatan Dawarblandong.

Dari 7.386 warga yang kesulitan air bersih itu, sebanyak 1.207 jiwa di antaranya merupakan warga Dusun Kandangan dan 400 warga Dusun Kunjorowesi, Desa Kunjorowesi. Lalu Desa Manduro Manggunggajah ada 700 jiwa penduduk dan 300 jiwa di Dusun Manggunggajah dan 750 Jiwa di Dusun Gadon, Desa Kutogirang.


Berikutnya, Desa Dawarblandong krisis air bersih dialami 750 jiwa di Dusun Sekeping dan 700 jiwa di Dusun Dawar. Desa Simongagrok meliputi Dusun Tempuran 375 jiwa, Dusun Ngagrok 825 jiwa, Genceng 420 jiwa dan Dusun Mlati 450 jiwa. Sedangkan di Dusun/Desa Duyung 509 jiwa.

BPBD sedikitnya mengirim 11 tangki air bersih ke enam desa yang dilanda kekeringan tersebut setiap harinya.

“Masing-masing 1 tangki untuk Desa Dawarblandong dan Simongagrok, 4 tangki untuk Desa Duyung, 4 tangki untuk Desa Kunjorowesi, serta masing-masing 1 tangki untuk Desa Kutogirang dan Manduro Manggunggajah,” tutur Kepala BPBD Kabupaten Mojokerto Muhammad Zaini.

Namun sayangnya, BPBD maupun Pemkab Mojokerto belum bisa memberi solusi komprehensif untuk menangani dampak di daerah rawan kekeringan secara jangka panjang.

“Itu sebenarnya wewenang Dinas PUPR. Tugas kami adalah penanganan tanggap darurat,” tandas Zaini. (im)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here