Ketua Komisi II DPRD Kota Mojokerto Agus Wahjudi Utomo langsug melakukan sidak dan mengecek langsung kualitas material bangunan usai insiden ambruknya pilar Gedung Setda Pemkot Mojokerto yang masih dalam proses rehabilitasi, Kamis (18/8/2022)

IM.com – Pilar gedung Sekertariat Daerah Pemerintah Kota Mojokerto tiba-tiba ambruk pada Kamis (18/8/2022) pagi. Peristiwa ini membuat dewan mempertanyakan keseriusan pelaksana yang sedang mengerjakan proyek rehabilitasi bangunan tersebut dengan biaya Rp 1,5 miliar.

Proyek rehabilitasi gedung Setda Kota Mojokerto dikerjakan oleh CV Ade Saputra, perusahaan kontraktor yang berkantor di Sidoarjo itu. Pekerjaan baru dimulai 3 Juni lalu dan ditargetkan selesai sesuai kontra pada 31 Oktober 2022, tiba-tiba ambruk, tadi pagi.

Bagian yang ambruk adalah pilar setinggi kurang lebih 4 meter. Ambrolnya konstruksi bangunan setengah jadi itu hampir menimpa mobil milik anggota dewan yang terparkir.

Anggota DPRD mempertanyakan proses pengerjaan proyek dan kualitas bahan bangunan. Sebab dilihat dari segi kualitas bahan dan material bangunan, ada indikasi kuat tidak sesuai spesifikasi teknis atau terjadi  pengurangan volume.


Wong adukan semen digenggam saja hancur, jelas kualitasnya amburadul. Ini ya bahasa kasarnya di masyarakat, satu sak semen dicampur pasir satu pikap,” tandas Ketua Komisi II DPRD Kota Mojokerto Agus Wahjudi Utomo, Kamis (18/8/2022).

Agus langsung melakukan sidak usai mendengar informasi ambruknya pilar gedung dan mengambil adukan semen dan pasir yang sudah mengering di lokasi proyek. Dari sampel yang diambilnya, ia memastikan campuran bahan bangunan tidak sesuai ketentuan.

“Di pilar-pilar lain juga terlihat aciannya sudah ada yang mengulapas,” tukas politisi Partai Golkar itu.

Menurutnya, ambruknya pilar tersebut juga disebabkan tidak adanya besi penyangga dan tidak memperhatikan keselematan pekerja. Selain itu, ukuran slup beton bangunan setinggi kurang lebih 12 meter itu dianggap terlalu kecil, hanya 30 cm persegi.

“Itu tidak sepadan sama bata dengan kaki bangunan selebar kurang lebih 1,5 meter dan semakin ke atas juga makin mengecil. Ini rawan ambruk,” ujarnya. Beruntung tidak ada pekerja yang menjadi korban ambrolnya pilar tersebut.

Selain itu, Agus juga mempermasalahkan kualitas pengerjaan ornamen ruangan yang bernuansa etnik.

“Jangan asal dikerjakan, ke depan kualitas proyek harus diutamakan jangan asal aja. Beruntung tidak ada korban jiwa,” pungkasnya. (cw)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here