Seorang pria asal Surabaya kepergok mencuri tas jamaah di musala Pacet, Mojokerto. Setelah sempat dimassa warga, pelaku akhirnya dimaafkan korban yang mencabut laporannya

inilahmojokerto.com – Suasana tenang di sebuah musala kecil di Dusun Belor, Desa Kembang Belor, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Minggu (5/7/2026) siang, mendadak berubah menjadi kepanikan.

Di saat jamaah khusyuk menunaikan salat usai berwisata, seorang pria berinisial IS (36), warga Kecamatan Tragah, Bangkalan, harus kehilangan tas selempang berwarna hijau yang ditaruh di dalam ruang musala.

Namun kisah pencurian itu tidak berakhir di ruang tahanan. Justru berujung pada sebuah pemaafan yang tak banyak terjadi dalam perkara kriminal.

Peristiwa bermula ketika IS bersama istrinya dan anggota keluarga lainnya singgah di musala setelah berlibur di kawasan wisata Klurak, Pacet. Mereka berniat menunaikan salat sebelum kembali pulang ke Madura.

Usai beribadah, IS menuju kamar mandi. Saat itulah ia mendengar suara sepeda motor melaju kencang meninggalkan lokasi menuju arah Desa Claket.

Nalurinya langsung mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. Kecurigaannya terbukti. Tas yang sebelumnya diletakkan di dalam musala telah hilang.

“Tadi habis salat saya ke kamar mandi. Tiba-tiba mendengar suara motor ngebut dan saya curiga. Setelah dicek ternyata tas saya sudah tidak ada,” tutur IS saat ditemui di Polsek Pacet.

Mendengar kabar itu, adik korban, Fahrul Rosi, langsung bergerak cepat. Ia mengejar pengendara motor Honda ADV tanpa pelat nomor yang diduga membawa kabur tas milik kakaknya.

Pengejaran berlangsung tidak lama. Terduga pelaku akhirnya berhasil dihentikan dan kedapatan masih membawa barang bukti berupa tas milik korban.

Kabar tertangkapnya pelaku segera menyebar. Warga yang berdatangan ke lokasi tak mampu menahan emosi setelah mengetahui adanya aksi pencurian di tempat ibadah.

Pria berinisial IKS (46), warga Kecamatan Sawahan, Surabaya, itu pun menjadi sasaran amuk massa. Bogem mentah mendarat bertubi-tubi hingga membuatnya mengalami sejumlah luka.

Beruntung, perangkat desa dan warga lainnya segera turun tangan untuk menghentikan aksi main hakim sendiri. Pelaku kemudian diamankan dan diserahkan kepada anggota Polsek Pacet.

Kapolsek Pacet AKP MK Umam membenarkan pihaknya telah mengamankan terduga pelaku setelah menerima laporan dari warga.

Menurutnya, pelaku sempat mendapatkan perawatan medis di Rumah Sakit Sumber Glagah, Pacet, karena mengalami luka akibat dipukuli massa.

“Pelaku sempat dimassa warga. Setelah diamankan, yang bersangkutan kami bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan dan dilakukan visum,” ujar Umam.

Dari tangan pelaku, polisi berhasil mengamankan tas korban yang berisi dua telepon genggam merek Samsung dan Oppo, uang tunai Rp600 ribu, serta sejumlah dokumen penting.

Seluruh barang tersebut berhasil dikembalikan dalam kondisi utuh. Namun yang terjadi setelahnya justru menjadi bagian paling menarik dari peristiwa ini.

Saat menjalani pemeriksaan di Polsek Pacet, IKS dikabarkan berulang kali meminta maaf kepada korban. Bahkan, ia disebut sampai bersujud memohon ampun atas perbuatannya.

Pemandangan itu membuat hati IS luluh. Alih-alih melanjutkan proses hukum, korban memilih mencabut laporannya.

“Saya kasihan melihat kondisinya. Barang-barang saya juga sudah kembali semua. Dia minta maaf sampai sujud kepada saya. Akhirnya saya memutuskan memaafkan dan mencabut perkara ini,” ungkap IS.

Keputusan tersebut membuat proses hukum tidak berlanjut. Korban secara resmi membuat surat pencabutan laporan dan menyatakan tidak ingin meneruskan perkara tersebut.

Bagi sebagian orang, pencurian adalah pelanggaran yang harus dibalas dengan hukuman. Namun di sebuah musala di kaki Gunung Welirang, siang itu, sebuah kesalahan justru berakhir dengan kesempatan kedua.

Sebuah pelajaran bahwa di tengah kemarahan massa dan proses hukum yang berjalan, masih ada ruang bagi penyesalan dan maaf untuk bertemu.

editor : prayogi waluyo

5

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini