Puluhan warga mengikuti ruwat sukerta Majapahit untuk membuang sial, marabahaya dan diharapkan kehidupan yang diruwat ke depan lebih baik lagi

IM.com – Sebanyak 86 warga mengikuti ruwat sukerta Majapahit di Pendopo Agung Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jum’at (22/9/2017). Ruwat bertujuan membuang sial, marabahaya dan diharapkan kehidupan yang diruwat ke depan lebih baik lagi.

Puluhan warga yang akan diruwat diminta mengenakan kain kafan yang sudah disiapkan panitia. Dengan menggunakan kain kafan, warga peserta ruwat akan dipanggil satu per satu untuk mengikuti prosesi. Para peserta ruwat kemudian diguyur dengan air yang berasal dari tujuh pertirtaan yang ada di Kecamatan Trowulan.

Diantaranya, air pertirtaan Siti Inggil Petilasan Raden Wijaya di Desa Bejijong, air pertirtaan Prabu Hayam Wuruk di Desa Panggih, air pertirtaan Tribuana Tunggal Dewi di Desa Klinterejo, air pertirtaan Sumur Sakti Maha Patih Gajahmada di Desa Beloh, air pertirtaan Sumur Upas di Desa Sentonorejo, air pertirtaan Sumber Towo dan air pertirtaan Putri Cempo di Desa Trowulan.

Air dari tujuh pertirtaan tersebut dicampur dengan tujuh jenis bunga berbeda warna. Yakni mawar, melati, gading, kenongo, kembang pring, kembang rowo dan sedap malam. Air tersebut diberi mantra oleh sesepuh dan diguyur ke kepala para peserta dan dilanjutkan memotong sedikit rambut. Selesai prosesi, para peserta diminta mandi dan kain kafan yang sebelumnya telah dipakai dikumpulkan untuk dilarung.

Pemangku Adat Ki Wiro Kadeg Wongso Jumeno menjelaskan, jika ruwat tersebut mempunyai tujuan agar tidak ada sial yang mengikuti anak yang akan diruwat tersebut. “Ruwat tidak ada hubungannya dengan agama dan penggunaan kain kafan dengan tujuan dinetralkan dan kain kafan tersebut akan dilarung karena dianggap menggandung sial atau apes,” katanya.

Ada 60 jenis kelahiran yang harus diruwat. Diantaranya, ontang-anting (satu laki-laki atau satu perempuan), gentono-gentini (dua anak laki-laki dan perempuan), sendang keapit pancuran (tiga anak, laki-laki-perempuan-laki-laki), pancuran kaapit sendang (anak tiga, perempuan-laki-laki-perempuan) dan lain sebagainya.

“Terakhir untuk sempurnanya ruwat yakni pargelaran wayang kulit dengan lakon Purwakala. Purwa berarti asal atau permulaan, Kala berarti bencana, jadi asal mula dari bencana sehingga diharapkan agar anak cucu Adam yang dianggap apes karena lahirnya agar tidak sial atau selamat,” jelasnya.(ning/uyo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here