Kabareskrim Komjen Pol Arief Sulistyanto usai rapat koordinasi teknis (rakornis) di Gedung Graha Sarina Vidi, Sleman, DIY, Kamis (18/10/2018).

IM.com – Integirtas dan kejujuran di jajaran satuan reserse kriminal Polri mendapat sorotan tajam dari Kabareskrim Komjen Arief Sulistyanto. Kabareskrim menyampaikan keluhan masyarakat terkait buruknya integritas anggota Polri paling besar tertuju pada jajaran reskrim.

Komjen Arief bahkan menyebut, buruknya kinerja dan integritas reserse menjadi sumber utama kinerja Polri, terutama di mata masyarakat. Masalah integritas di tubuh reskrim mengarah pada masih seringnya terjadi pungli yang biasa diistilahkan ‘86’ yang sudah menjadi rahasia umum di internal reskrim.

Hal itu diakui oleh Kabareskrim. Ia mengingatkan agar jajaran Reskrim di tingkat Mabes hingga kepolisian sektor agar tidak mudah menggadaikan integritas Polri karena godaan materi.

“Jangan melacurkan profesi kita. Uang 86 hasil memeras itu panas. Mending kita hidup jujur, pulang tenang tidur nyenyak, tidak was was,” tegas Komjen Pol Arief Sulistyanto di hadapan jajaran Reskrim Polda DIY dalam rapat koordinasi teknis (rakornis) di Gedung Graha Sarina Vidi, Sleman, DIY, Kamis (18/10/2018).


Arief kemudian mengutip instruksi Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang menekankan program polisi yang promoter yakni profesional, modern, dan terpercaya. Ia mengaku mendapat tugas dari Kapolri untuk membenahi reserse.

“Komplain paling tinggi dari masyarakat kepada reserse. Ini salah satu sumber buruknya kinerja kepolisian,” kata Arief.

Karena itu dia meminta satuan reserse dari tingkat Polsek hingga Mabes Polri menjaga Integritas dan profesionalitas. Arief pernah diamanahi Tito memimpin SDM Polri dan sukses melakukan perubahan.

Pembenahan integritas itu, menurut Arief, bisa menurunkan komplain kepada jajaran Reskrim hingga 60 persen. Pembenahan masalah integritas itu coba diatasi dengan mempermudah kinerja penyidik dengan membuka jalur pengaduan online melalui media sosial dan email.

Arief kemudian menceritakan pengalamannya saat dia masih menjadi perwira pertama yang pernah menolak perintah atasannya. Ia menolak perintah itu karena tidak sesuai norma aturan dan etika seorang polisi. Meski akibat keteguhannya itu, Arief mengaku menjadi saasran amarah atasannya.

“Jangan takut untuk menegakkan kebenaran. Kebenaran akan membawa kita sukses,” ungkapnya.

Tepuk tangan berkali-kali diberikan para reserse yang hadir ketika Arief beberapa kali menyelipkan cerita menolak perintah atasannya yang tidak sesuai. Seorang penyidik, lanjut Arief, harus menyidik dengan niat yang baik. Kemudian kejujuran, integritas, dan obyektifitas.

“Dasar penyidikan kejujuran kalau jujur akan benar, benar akan memberikan keadilan. Menegakkan integritas ada resistensi. Kita harus siap,” tandasnya. (ran/im)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here